angginews.com Tahun 2026 menandai sebuah titik balik krusial dalam arsitektur keuangan global. Di bawah kepemimpinan India yang mengambil alih tongkat kepresidenan, aliansi BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, serta anggota baru lainnya) memasuki babak baru yang lebih agresif dalam menantang dominasi ekonomi Barat. Dengan gejolak geopolitik yang terus membayangi, kebijakan-kebijakan yang diluncurkan oleh blok ini di tahun 2026 bukan lagi sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang mulai mengguncang pasar negara berkembang (emerging markets).
Transformasi Kepemimpinan: India dan Visi Penyeimbang
Kepresidenan India di BRICS pada tahun 2026 membawa warna yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di tengah ketegangan dagang global dan kebijakan tarif yang ketat dari Amerika Serikat, New Delhi berusaha memposisikan BRICS sebagai jembatan sekaligus kekuatan penyeimbang antara G7 dan Global South.
Fokus utama India adalah memperkuat integrasi ekonomi tanpa harus memicu konfrontasi langsung dengan sistem keuangan tradisional. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa negara berkembang tetap memiliki ruang diplomatik dan ekonomi yang luas untuk tumbuh di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.
Arsitektur Keuangan Baru: Dedolarisasi dan Sistem Pembayaran Digital
Salah satu kebijakan paling berdampak di tahun 2026 adalah akselerasi sistem pembayaran alternatif. BRICS mulai mengintegrasikan infrastruktur digital antarnegara anggota melalui platform seperti BRICS Pay.
Sistem ini memungkinkan transaksi lintas batas dilakukan secara instan menggunakan mata uang lokal tanpa melalui jaringan SWIFT. Beberapa poin kunci dari transformasi keuangan ini meliputi:
-
Penggunaan Mata Uang Lokal: Penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan internal BRICS diproyeksikan mencapai lebih dari 50% di tahun 2026, mengurangi kebutuhan likuiditas dolar AS secara signifikan.
-
Uji Coba CBDC (Central Bank Digital Currency): Kerja sama dalam pengembangan rupiah digital, yuan digital, dan rupee digital mulai digunakan untuk kliring perdagangan komoditas.
-
Mekanisme Cadangan Darurat (CRA): Penguatan Contingent Reserve Arrangement sebagai jaring pengaman bagi negara berkembang yang menghadapi krisis nilai tukar.
Dampak Bagi Pasar Negara Berkembang (Emerging Markets)
Kebijakan baru BRICS di tahun 2026 menciptakan efek domino bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia yang terus mempererat hubungan dengan blok ini.
1. Diversifikasi Risiko dan Stabilitas Nilai Tukar
Dengan mengurangi ketergantungan pada dolar AS, negara-negara berkembang memiliki perlindungan lebih baik terhadap fluktuasi suku bunga dari Federal Reserve (The Fed). Stabilitas nilai tukar menjadi lebih terjaga karena transaksi bilateral didukung oleh cadangan mata uang yang lebih beragam dan aset keras seperti emas.
2. Akses Pendanaan Infrastruktur melalui NDB
New Development Bank (NDB) semakin aktif di tahun 2026 dengan menyalurkan pembiayaan dalam mata uang lokal. Bagi negara berkembang, ini adalah peluang emas untuk membiayai proyek infrastruktur strategis, teknologi hijau, dan digitalisasi tanpa terbebani risiko utang dalam mata uang asing yang mahal.
3. Pergeseran Rantai Pasok Global
BRICS mulai membangun platform logistik bersama untuk mengintegrasikan rantai pasok antar anggota. Hal ini menguntungkan negara-negara eksportir komoditas dan manufaktur di Asia dan Afrika, memperluas jangkauan pasar mereka ke lebih dari 3 miliar penduduk dunia yang berada dalam ekosistem BRICS.
Tantangan dan Realitas Geopolitik 2026
Meskipun prospeknya terlihat cerah, perjalanan BRICS di tahun 2026 tidak tanpa hambatan. Perbedaan kepentingan domestik antar anggota, seperti persaingan strategis India-Tiongkok dan tekanan sanksi Barat terhadap Rusia, tetap menjadi ujian bagi soliditas blok ini.
Selain itu, wacana peluncuran mata uang tunggal BRICS yang berbasis emas masih menghadapi kendala regulasi dan perbedaan kebijakan moneter yang tajam. Para ahli memprediksi implementasi penuh mata uang bersama ini mungkin baru akan terwujud mendekati tahun 2030, menjadikannya sebuah visi jangka panjang daripada solusi instan.
Kesimpulan: Menuju Tatanan Dunia Multipolar
Babak baru BRICS 2026 adalah bukti bahwa pusat gravitasi ekonomi dunia telah bergeser ke arah Timur dan Selatan. Bagi pelaku usaha dan investor di pasar negara berkembang, adaptasi terhadap sistem keuangan multipolar ini adalah kunci untuk bertahan di tengah ketidakpastian global.
BRICS bukan lagi sekadar kelompok diskusi, melainkan lokomotif pertumbuhan baru yang menawarkan alternatif nyata terhadap tatanan dunia lama. Keberhasilan aliansi ini dalam menerapkan sistem pembayaran lokal dan pendanaan yang inklusif akan menentukan seberapa kuat posisi pasar negara berkembang dalam dekade mendatang.
Baca Juga : Berita Terbaru







Komentar