oleh

Budaya Flexing di Media Sosial: Bahasa Sosial Baru?

angginews.com Dalam beberapa tahun terakhir, linimasa media sosial dipenuhi oleh unggahan yang menampilkan mobil mewah, liburan mahal, barang bermerek, hingga gaya hidup serba glamor. Fenomena ini dikenal luas sebagai flexing. Awalnya, flexing dipandang sebagai bentuk pamer kekayaan. Namun, seiring waktu, praktik ini berkembang menjadi fenomena sosial yang jauh lebih kompleks.

Di satu sisi, flexing dianggap memicu kecemburuan sosial dan tekanan psikologis. Namun di sisi lain, sebagian orang menilai flexing sebagai bahasa sosial baru—cara individu mengekspresikan identitas, pencapaian, dan posisi sosial di era digital. Oleh karena itu, pertanyaannya menjadi semakin relevan: apakah flexing sekadar pamer, atau justru bentuk komunikasi modern?


Apa Itu Budaya Flexing?

Secara sederhana, flexing merujuk pada tindakan memamerkan kekayaan, pencapaian, atau status sosial kepada publik. Di media sosial, flexing diwujudkan melalui foto, video, atau cerita yang menonjolkan kemewahan dan keberhasilan.

Namun demikian, flexing tidak selalu tentang uang. Banyak pengguna memamerkan gaya hidup sehat, karier cemerlang, relasi sosial luas, bahkan kebahagiaan personal. Dengan demikian, flexing berkembang menjadi simbol representasi diri di ruang digital.


Media Sosial sebagai Panggung Identitas

Media sosial telah mengubah cara manusia membangun identitas. Jika dahulu status sosial terlihat melalui interaksi langsung, kini pengakuan banyak diperoleh melalui jumlah likes, views, dan komentar. Oleh sebab itu, flexing menjadi strategi visual untuk mendapatkan validasi sosial.

Selain itu, algoritma media sosial cenderung mengangkat konten yang menarik perhatian. Akibatnya, unggahan bernuansa kemewahan lebih mudah viral. Kondisi ini, pada akhirnya, memperkuat budaya flexing sebagai norma baru dalam berinteraksi digital.


Flexing sebagai Bahasa Sosial Baru

Menariknya, flexing tidak selalu bermakna negatif. Dalam konteks tertentu, flexing berfungsi sebagai bahasa simbolik. Misalnya, bagi sebagian anak muda, memamerkan pencapaian adalah cara menyampaikan pesan bahwa kerja keras mereka membuahkan hasil.

Lebih jauh lagi, flexing sering digunakan sebagai alat membangun personal branding. Influencer, kreator konten, hingga pebisnis memanfaatkan flexing untuk membangun citra sukses dan kredibel. Dengan demikian, flexing berfungsi sebagai alat komunikasi strategis, bukan sekadar ajang pamer.


Dampak Psikologis di Balik Flexing

Meskipun terlihat mengesankan, budaya flexing menyimpan dampak psikologis yang tidak kecil. Bagi penonton, paparan terus-menerus terhadap gaya hidup mewah dapat memicu rasa tidak puas, rendah diri, dan tekanan sosial.

Di sisi lain, pelaku flexing pun tidak selalu berada dalam kondisi emosional yang stabil. Keinginan untuk terus tampil sempurna sering kali memicu kecemasan dan ketergantungan pada validasi eksternal. Oleh karena itu, flexing menjadi pedang bermata dua dalam kehidupan digital.


Flexing dan Kesenjangan Sosial Digital

Selain dampak individu, flexing juga memperlebar kesenjangan sosial secara simbolik. Ketika kemewahan ditampilkan sebagai standar kesuksesan, kelompok yang tidak mampu mencapainya berisiko merasa terpinggirkan.

Namun demikian, sebagian pihak berpendapat bahwa flexing justru membuka diskusi tentang realitas sosial. Dengan kata lain, flexing dapat menjadi cermin ketimpangan ekonomi yang sebelumnya tersembunyi. Oleh sebab itu, respons terhadap flexing sangat bergantung pada konteks dan sudut pandang.


Normalisasi Flexing di Kalangan Generasi Muda

Generasi muda, khususnya Gen Z, tumbuh bersama media sosial. Akibatnya, flexing sering dianggap hal yang wajar. Unggahan pencapaian pribadi dipandang sebagai bentuk ekspresi diri, bukan kesombongan.

Selain itu, budaya hustle dan self-improvement turut mendorong flexing. Ketika kesuksesan dipromosikan sebagai hasil kerja keras, memamerkan hasil dianggap sah. Dengan demikian, flexing menjadi bagian dari narasi motivasi modern.


Peran Influencer dan Selebritas Digital

Tidak dapat dimungkiri, influencer memiliki peran besar dalam membentuk budaya flexing. Konten mereka sering menampilkan kemewahan sebagai gaya hidup ideal. Akibatnya, standar kesuksesan publik bergeser ke arah visual dan material.

Namun, belakangan muncul tren baru. Banyak influencer mulai menampilkan sisi realistis kehidupan, termasuk kegagalan dan perjuangan. Dengan cara ini, flexing perlahan bergeser menjadi storytelling yang lebih manusiawi dan autentik.


Antara Inspirasi dan Ilusi

Salah satu perdebatan utama tentang flexing adalah batas antara inspirasi dan ilusi. Di satu sisi, flexing dapat memotivasi orang lain untuk bermimpi lebih besar. Namun di sisi lain, flexing berisiko menciptakan ilusi kesuksesan instan.

Oleh karena itu, literasi digital menjadi kunci. Pengguna perlu memahami bahwa media sosial adalah ruang kurasi, bukan representasi penuh kehidupan nyata. Dengan kesadaran ini, flexing dapat disikapi secara lebih sehat.


Bagaimana Menyikapi Budaya Flexing Secara Bijak

Untuk menghadapi budaya flexing, penting bagi individu untuk membangun kesadaran diri. Pertama, bandingkan diri hanya dengan versi diri sendiri, bukan dengan unggahan orang lain. Kedua, batasi konsumsi konten yang memicu tekanan emosional.

Selain itu, gunakan media sosial sebagai sarana berbagi nilai, bukan sekadar validasi. Dengan pendekatan ini, flexing tidak lagi menjadi sumber kecemasan, melainkan refleksi perjalanan hidup yang lebih autentik.


Kesimpulan: Pamer atau Bahasa Sosial?

Budaya flexing di media sosial tidak bisa disederhanakan sebagai pamer kekayaan semata. Di era digital, flexing telah berevolusi menjadi bahasa sosial baru—cara individu berkomunikasi, membangun identitas, dan mencari pengakuan.

Namun demikian, dampak negatifnya tetap perlu disadari. Oleh karena itu, keseimbangan menjadi kunci. Ketika flexing dilakukan dengan kesadaran dan empati, ia bisa menjadi inspirasi. Sebaliknya, tanpa kontrol, flexing berpotensi memperdalam tekanan sosial. Pada akhirnya, makna flexing kembali pada cara kita memaknainya dan menyikapinya.

Baca Juga : Berita Terkini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *