oleh

Victim-Blaming: Ketika Korban Kekerasan Menjadi Sasaran Publik.

angginews.com Kekerasan, dalam bentuk apa pun, selalu meninggalkan luka mendalam bagi korban. Namun sayangnya, penderitaan korban sering kali tidak berhenti pada peristiwa kekerasan itu sendiri. Sebaliknya, korban justru kembali disakiti melalui praktik victim-blaming, yaitu kecenderungan masyarakat menyalahkan korban atas kekerasan yang dialaminya.

Alih-alih mendapatkan empati dan dukungan, korban justru menjadi sasaran kritik, kecurigaan, bahkan hujatan publik. Oleh karena itu, victim-blaming menjadi persoalan serius yang tidak hanya melanggengkan ketidakadilan, tetapi juga memperparah trauma korban.


Apa Itu Victim-Blaming?

Secara sederhana, victim-blaming adalah sikap menyalahkan korban atas tindakan kekerasan yang menimpanya. Misalnya, korban kekerasan seksual dituding karena pakaian, sikap, atau gaya hidupnya. Demikian pula korban kekerasan domestik sering disalahkan karena dianggap “tidak patuh” atau “kurang sabar”.

Dengan kata lain, pelaku kekerasan seolah dikesampingkan, sementara korban justru ditempatkan sebagai pihak yang bertanggung jawab. Akibatnya, fokus masalah bergeser dari kejahatan itu sendiri menuju perilaku korban.


Akar Budaya Victim-Blaming di Masyarakat

Victim-blaming tidak muncul begitu saja. Sebaliknya, ia berakar dari norma sosial, budaya patriarki, dan cara pandang yang timpang terhadap kekuasaan. Dalam banyak kasus, masyarakat lebih nyaman percaya bahwa dunia ini adil. Oleh sebab itu, mereka cenderung berpikir bahwa korban pasti melakukan sesuatu yang “memicu” kekerasan.

Selain itu, stereotip gender juga memperkuat victim-blaming. Perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya sering dianggap lemah atau tidak mampu menjaga diri. Akibatnya, ketika kekerasan terjadi, mereka justru disalahkan.


Peran Media dan Media Sosial

Di era digital, media dan media sosial memainkan peran besar dalam membentuk opini publik. Sayangnya, pemberitaan yang sensasional sering kali memperparah victim-blaming. Judul berita yang menyoroti latar belakang korban, cara berpakaian, atau kehidupan pribadinya secara tidak langsung mengarahkan publik untuk menyalahkan korban.

Lebih jauh lagi, komentar di media sosial kerap menjadi ruang penghakiman massal. Dengan demikian, korban tidak hanya menghadapi trauma pribadi, tetapi juga tekanan sosial yang masif dan berulang.


Dampak Psikologis bagi Korban

Victim-blaming memiliki dampak psikologis yang sangat serius. Korban dapat mengalami rasa bersalah berlebihan, depresi, kecemasan, bahkan keinginan untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Lebih parah lagi, banyak korban memilih diam dan tidak melapor karena takut disalahkan.

Akibatnya, pelaku kekerasan sering kali lolos dari tanggung jawab hukum. Dengan demikian, victim-blaming bukan hanya menyakiti korban, tetapi juga menciptakan siklus kekerasan yang terus berulang.


Mengapa Masyarakat Mudah Menyalahkan Korban?

Salah satu alasan utama adalah kurangnya edukasi tentang kekerasan dan trauma. Banyak orang belum memahami bahwa kekerasan sepenuhnya merupakan tanggung jawab pelaku. Selain itu, empati sering kali kalah oleh prasangka dan penilaian moral.

Di sisi lain, menyalahkan korban memberi rasa aman palsu bagi masyarakat. Dengan berpikir bahwa korban “berbuat salah”, orang lain merasa kekerasan tidak akan menimpa mereka. Padahal, kenyataannya kekerasan bisa terjadi pada siapa saja.


Victim-Blaming dalam Sistem Hukum dan Sosial

Tidak hanya di ruang publik, victim-blaming juga kerap terjadi dalam proses hukum. Pertanyaan yang meragukan kesaksian korban, sikap aparat yang tidak sensitif, hingga proses hukum yang berbelit-belit semakin memperparah kondisi korban.

Oleh karena itu, pendekatan yang berperspektif korban sangat diperlukan. Sistem hukum seharusnya melindungi, bukan justru mempermalukan korban di hadapan publik.


Peran Pendidikan dan Literasi Empati

Untuk memutus rantai victim-blaming, pendidikan menjadi kunci utama. Edukasi tentang kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan empati sosial perlu ditanamkan sejak dini. Dengan demikian, masyarakat dapat memahami bahwa menyalahkan korban bukanlah solusi.

Selain itu, literasi media juga penting agar publik mampu mengkritisi narasi yang menyudutkan korban. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat dapat menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.


Bagaimana Kita Bisa Berkontribusi Menghentikan Victim-Blaming?

Setiap individu memiliki peran dalam menghentikan budaya victim-blaming. Pertama, dengarkan korban tanpa menghakimi. Kedua, fokuskan perhatian pada perilaku pelaku, bukan korban. Ketiga, edukasi diri dan lingkungan sekitar tentang dampak buruk victim-blaming.

Selain itu, dukungan nyata seperti membagikan informasi yang benar, mendukung kebijakan pro-korban, dan melawan komentar menyalahkan korban di media sosial juga sangat berarti.


Dari Penghakiman Menuju Empati

Perubahan budaya tidak terjadi dalam semalam. Namun demikian, langkah kecil yang konsisten dapat membawa dampak besar. Dengan mengganti penghakiman menjadi empati, masyarakat dapat menciptakan ruang yang aman bagi korban untuk bersuara.

Lebih jauh lagi, empati membuka jalan menuju keadilan yang lebih manusiawi. Ketika korban didukung, proses pemulihan menjadi lebih mungkin.


Kesimpulan: Hentikan Menyalahkan, Mulai Melindungi

Victim-blaming adalah bentuk kekerasan sosial yang sering kali luput disadari. Padahal, dampaknya sangat merusak, baik secara individu maupun sosial. Oleh karena itu, menghentikan budaya menyalahkan korban adalah tanggung jawab bersama.

Dengan membangun empati, meningkatkan literasi, dan mengubah cara pandang, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil dan beradab. Karena pada akhirnya, korban kekerasan membutuhkan perlindungan, bukan penghakiman.

Baca Juga : Berita Terkini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *